Kajian Ilmu Hadits

SOAL JAWAB TENTANG ILMU HADITS

Oleh: Drs. Hamid Sidiq, M.Pd.I

Dosen Hadits dan Ilmu Hadits STAI Persis Bandung

 

  1. 1.      Bacalah teks tersebut – terjemahkan – mengapa anda yakin bahwa teks tersebut adalah hadits – jelaskan alasannya, mana tandanya pada teks?
 

 

حدثني حرملة بن يحي انبأنا بن وهب قال اخبرني يوسف عن ابن شهاب عن ابن سلامة بن عبد الرحمن عن ابي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صعلم, قال من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم جاره و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم ضيفه (رواه مسلم)

  Artinya : Telah memberitakan kepadaku Harmalah ibn Yahya, telah memberitakan kepada kami Ibn Wahab dia berkata telah mengkhabarkan kepadaku yusuf, dari Ibn Syihab, dari Ibn Salamah Ibn ‘Abd al-Rahmnan, dari Abi Hurairah r.a., dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Barang siapa yang beriman kekpada Allah dan Yaumal akhir maka hendaklah ia berkata yang benar atau (jika tidak bisa berkata benar) berdiamlah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Yaumal akhir maka hendaklah ia menghormati tetangga. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Yaumal akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya. (H.R. Muslim)

Teks ini diyakini sebagai hadits, karena di dalamnya ada penyandaran (idlafah) kepada Rasulullah Saw, sesuai ta’rif istilahi, bahwa yang dimaksud hadits adalah :

ما اضيف للنبي صلعم قولا او فعلا او تقريرا او نحوها

Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan (taqrir) atau yang lainnya.

Adapun tanda, bahwa teks di atas adalah hadits adanya ungkapan :

عن رسول الله صعلم, قال

 

 

 

 

  1. 2.      Ta’rif istilah hadits harus jami’-mani’, apakah ta’rif

  ما اضيف للنبي صلعم قولا او فعلا او تقريرا او نحوها jami’-mani’ ? Perhatikan lafad  maa – Nabi – au nahwaha!

 

Syarath ta’rif antara lain harus jami’ dan mani’. Jami’ artinya inklusif atau tidak kurang dan mani’ artinya exlusif atau tidak lebih. Jika ditinjau dari segi penyandarannya, maka ta’rif hadits di atas ghair mani’, sebab ke dalam ta’rif itu tidak mencakup apa yang disandarkan kepada Shahabat dan tabi’in. Dan jika ditinjau dari segi apa yang disandarkannya, maka ta’rif di atas jami’, sebab selain dalam bentuk qaul, fi’l dan taqrir ada yang lainnya yang dicakup dengan hadits yang diungkapkan dengan lafad nahwaha, yaitu antara lain : shifah, hal, khalqiyyah, himmah, kauni, silsilah, sirah dan ahwal.

 

3.   Arti istilah dalam perspektif keahlian tertentu. Bedakan ta’rif hadits antara muhadditsin dan fuqaha – mengapa beda – jelaskan lebih lanjut dengan contoh!

Masing-masing ulama berbeda dalam keahliannya. Karena itu dari perbedaan ini memberikan dampak pada perbedaan dalam memberikan ta’rif hadits. Perbedaan itu disebabkan ada perbedaan dalam objek kajian, sekup dan orientasi keilmuan masing-masing. Ulama ahli hadits membahas pribadi dan perilaku Nabi Saw. sebagai tokoh panutan yang baik (uswah hasanah), karena itu mereka mencatat segala hal yang berkaitan dengan Nabi, baik berkaitan dengan hukum ataupun tidak. Dan ulama ahli fiqih (fuqaha) membahas pribadi dan perilaku Nabi Saw. sebagai imam pembuat dustur, karena itu mereka memperhatikan Nabi Saw.dari segi penetapan hukumnya.

Ulama ahli hadits menta’rifkan hadits sebagai mana ta’rif di atas, dan ulama fuqaha menambahkan pada ta’rif di atas dengan ungkapan  :   fi al-hukm syar’iyy. Maka menjadilah ta’rif itu sebagai berikut :

ما اضيف الى النبي صلعم قولا او فعلا او تقريرا او نحوها في الحكم الشرعي

4.   Apa istilah lain untuk hadits – jelaskan pervedaannya dari segi idlafah, wurud, dan pengamalnnya.

Ditinjau dari segi idlafah, wurud dan pengamalannya, selain sebutan hadits dikenal pula ada istilah lain yang semakna dengannya, yaitu sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi.. Perbedaannya adalah :

a.    Hadits disandarkan kepada Rasulullah Saw., shahabat ataupun tabi’in walaupun pengamalannya hanya satu kali;

b.   Sunnah disandarkan kepada Rasulullah Saw., dan shahabat banyak mengamalkan serta sering menerimanya lalu diamalkan  oleh ummat dari generasi demi generasi;

d.   Atsar disandarkan kepada shahabat;

c.    Khabar disandarkan kepada tabi’in;

d.   Hadits Qudsi disandarkan kepada Allah Swt.

 

5.   Manakah hadits secara riil – gunakan ta’rif dilalah  – jelaskan al-Mashadir al-Ashliyyah dan mudawinnya!

Hadits secara riil berdasarkan ta’rif dilalah/ostensif adalah semua yang terdapat dalam kitab hadits sebagai al-mashadir al-ashliyyah, yaitu sebagai mana yang terdapat pada bagan di bawah ini :

KITAB HADITS MASHADIR AL-ASHLIYYAH/DEWAN

NO.

NAMA KITAB

YANG MENDEWANKAN

KET.

NAMA

THN

LHR.-WFT.

TBQH.

1

المصنف الاول- الموطأ

مالك

93-179 H./

712-798 M.

2 T

2

المسند

الحنفي

1 T

3

المسند

الشافعي

150-240 H./

767-820 M.

4 T

4

المسند

احمد

780-855 M.

3 T

5

المسند

الحميد

3 T

ll

المسند

عبيد الله

3 T

7

المسند

يعقوب

3 T

8

المسند

مسدد

3 T

9

المسند

الطياليس

3 T

10

السنن

ابو داود

202-275 M./

817-889 M.

4 T

11

السنن

الترميذي

200-279 H./

824-892 M.

4 T

12

السنن

النسائي

215-303 H./

839-915 M.

4 T

13

السنن

ابن ماجه

270-273 H./

824-887 M.

4 T

14

السنن

الدارمي

181-255 H.

4 T

15

السنن

الدارقطني

306-385 H.

4 T

16

السنن

الديلمي

4 T

17

السنن

البيهقي

384-458 H.

7 T

18

الصحيح

البخاري

194-252 H./

810-870

4 t

19

الصحيح

مسلم

240-216 H./

820-875 M.

5 T

20

الصحيح

ابن حبان

….-354

6 T

21

الصحيح

ابو حزيمة

223-313 H.

5 T

22

الصحيح

ابن جرود

5 T

23

الصحيح

ابو عوانة

5 T

24

الصحيح

الحاكم

321-405 H.

6 T

Keterangan :

a.   Kitab hadits sebagai mashadir al-ashliyyah akhir pendewanan adalah abad ke V H.

b.   Kitab hadits yang didewankan oleh Hakim merupakan koleksi dari hadits-hadits Bukhari dan Muslim yang oleh Bukhari ataupun muslim tidak dimasukkan ke dalam kitab shahihnya.

 

 

 

6.   Apakah ilmu hadits – jelaskan esensi dan karakteristik ilmu: sistemik sistematik – jelaskan kualifikasi ilmu hadits riwaha – dirayah!

Esensi ilmu hadits adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui betul tidaknya ucapan, perbuatan, keadaan atau lainnya yang dikatakan oleh orang, bahwa ketiga hal itu diterima dari Nabi Saw.

Karakteristik ilmu adalah harus sistemik dan sistematik, artinya ilmu mempunyai system unsur dan system proses. Sistem unsur terdiri dari berbagai sub system, yaitu yang mempunyai hubungan satu sama lain dan menjadi satu kesatuan yang utuh.  Dan system proses yaitu melalui input, metode dan autput.

Secara global ilmu hadits terbagi pada dua bagian, yaitu ilmu riwayah dan ilmu dirayah. Yang dimaksud ilmu riwayah adalah :

علم يعرف به نقل ما اضيف الى النبي صلعم قولا او فعلا او تقريرا او غير ذلك و ضبطها و تحريرها

Ilmu untuk mengetahui tentang penerimaan (نقل\تحمل ), pemeliharaan (حفظ\نقل), dan  penyampaian (اداء\تحرير) sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan atau yang lainnya.

Untuk memperjelas pengertian di atas dan sekaligus menggambarkan esensinya dapat diperhatikan bagan sebagai berikut :

PENERIMAAN

:

تحمل\اداء

ILMU TENTANG

PEMELIHARAAN

:

حفظ\ضبط

HADITS

PENYAMPAIAN

:

اداء\تحرير

 

Lebih terperincinya, bahwa yang dimaksud ilmu riwayah adalah proses transformasi hadits sejak diwurudkannya oleh Nabi Saw. lalu diterima oleh shahabatnya dengan cara melihat apa yang dikerjakan dan mendengar apa yang diucapkan kemudian dipelihara dengan amalan dan pencatatan lalu disampaikan kepada shahabat lain atau tabi’in baik secara lisan ataupun tulisan begitu pula oleh tabi’in sampai diproses tadwin secara resmi pada masa tabi’it tabiin (masa ‘Umar ibn Abd al-‘Aziz) dan akhirnya terkoleksi pada dewan hadits; terakhir pada abad ke V (450 H).

 

 

Penerimaan ( تحمل\اداء ) suatu hadits dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1.   Bi al-lisan yang disebut ada` al-hadits;

2.   Bi al-kitabah / bi al-tadwin / bi al-tasjil.

Ilmu dirayah adalah

القانون يدرى به احوال السند و المتن و كيفية التحمل و الاداء و صفة الرجال و غير ذلك من حيث القبول و الرد

Kaidah-kaidah untuk mengetahui hal-ihwal sanad, matan, cara penerimaan dan penyampaian hadits, sifat rijal hadits dan yang lainnya dari segi dapat diterima atau ditolaknya suatu hadits.

Untuk memperjelas pengertian di atas dan sekaligus menggambarkan esensinya dapat diperhatikan bagan sebagai berikut :

RAWI

UNTUK MENENTUKAN

MAQBUL

KAIDAH TENTANG

SANAD

HADITS

M ATAN

MARDUD

SISTEM RIWAYAH

 

7.   Bedakan anatara ilmu riwayaah dan dirayah dari segi sifat, proses, dan natijah – bedakan tahammul wal adaa dalam riwayah dan dirayah!

Perbedaan antara ilmu riwayah dan dirayah dapat dilihat pada bagan di bawah ini :

 

SEGI

RIWAYAH

DIRAYAH

     
Sifat Deskriptif / penggambaran. Analitik
Proses Alamiyah. Menilai rawi, sanad dan matan
Hasil/output Tersusunnya hadits dalam kitab hadits. Diketahuinya kwalitas maqbul dan mardudnya suatu hadits
Waktu Berlangusng sejak Nabi Saw. sampai terlaksananya tadwin Sebagai embrio, yakni berlangsung sejak Nabi Saw. sampai sekarang dan masa mendatang serta  tidak berhenti pada saat tadwin selesai

 

Dalam ilmu riwayah ataupun dirayah di dalamnya terdapat cara-cara tentang tahammul dan ada`. Perbedaan diantara keduanya adalah :

a.    Dalam ilmu riwayah tahammul dan ada` adalah sebagai cara/system/thariqah penerimaan dan penyampaian .

b.   Dalam ilmu dirayah bahwasanya system atau masuknya riwayah ke dalam dirayah tidak menentukan maqbul dan mardudnya kwalitas hadits.

 

8.   Rinci jenis ilmu hadits – ilmu hadits disebut mushthalah, jelaskan esensi dan konotasi mushthalah hadtis!

Ilmu hadits secara terperinci memiliki beberapa cabang ilmu, yaitu :

a.    ‘Ilmu Rijal al-Hadits;

b.   ‘Ilmu Tawarikh al-Ruwah;

c.    ‘ilmu Thabaqat al-Ruwah;

d.   ‘Ilmu Jarh wa al-Ta’dil;

e.    ‘Ilmu Ma’ani al-hadits;

f.    ‘Ilmu Gharib al-Hadits;

g.   ‘Ilmu ‘Ilal al-Hadits;

h.   ‘Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh;

i.    ‘Ilmu Asbab al-Wurud;

j.    ‘Ilmu Mukhtalif al-Hadits;

k.   ‘Ilmu Fan al-Mubhamat.

Ilmu hadits disebut pula dengan ilmu mushthalah hadits. Esensinya merupakan  kesepakatan menggunakan istilah dalam pembahasan hadits. Dan konotasinya adalah :

  1. Ilmu hadits yang terdiri dari ilmu riwayah dan dirayah;
  2. Sama dengan dirayah, yakni ilmu hadits yang bukan merupakan ilmu riwayah;
  3. Dirayah, yakni ilmu hadits untuk menentukan maqbul dan mardudnya suatu hadits (ditentukan dengan qaidah rawi, sanad dan matan).

Ilmu hadits dikatakan mushthalah al-hadits, karena :

a.   berisi tentang istilah-istilah’

b.   prosesnya merupakan  kesepakatan para muhadditsin;

c.   setiap konsep dalam mushthalah mempunyai makna yang ketat;

d.   hanya ilmu haditslah yang disebut mushthalah.

 

9.   Bertolak dari konsep riwayah dan dirayah unsur hadits ada tiga – sebutkan dan jelaskan artinya – tunjukkan unsure tersebut pada teks!

Bertolak dari konsep ilmu riwayah dan dirayah di atas, maka unsur hadits itu ada tiga, yaitu:

a.    Rawi adalah seorang yang menerima (naql/tahammul), memelihara (dlabth/hifdzh), dan menyampaikan (tahrir/ada`) hadits;

b.   Sanad /referenc hadits/sumber pemberitaan/maraji’, yaitu para rawi yang terlibat dalam periwayatan hadits mulai dari mudawwin, gurunya sampai kepada rawi yang pertama menerima hadits (ashl al-sanad).

c.    Matan adalah redaksi/lafad/teks hadits.

Untuk memperjelas tentang unsur-unsur hadits di atas dapat diperhatikan pada teks hadits Harmalah di atas, yaitu :

a.    Rawi : (1) Abu Hurairah, (2) Ibn Salamah Ibn ‘Abd al-Rahman, (3) Ibn Syihab, (4) Yusuf, (5) Ibn Wahab, (6) Harmalah Ibn Yahya dan (7) Muslim.

b.   Sanad : (1) Muslim, (2) Harmalah Ibn Yahya, (3) Ibn Wahab, (4) Yusuf, (5) Ibn Syihab, (6) Ibn Salamah Ibn ‘Abd al-Rahaman dan (7) Abu Hurairah.

c.    Matan :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           قال من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم جاره و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم ضيفه

 

 

NABI Saw.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SANAD                                                                             RAWI

 

YUSUF

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10. Bandingkan antara riwayah al-Qur’an dan hadits dari segi proses, bagaimana adab menulis hadits – bedakan unsure hadits dan al-Qur’an – mengapa bea ?

Al-Qur’an atau hadits sebagai sumber ajaran Islam sampai kepada kita adalah sama melalui melalui proses riwayah. Perbedaannya, bahwa al-Qur’an turun (nuzul) dari Allah Swt. disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Lauh al-Mahfudzh dan Malaikat Jibril dan akhirnya secara final terkodifikasikan ke dalam mushaf pada masa Khalifah ‘Utsman r.a.  Sedangkan proses riwayah dalam al-Hadits turun  (wurud) dari Nabi Muhammad Saw. disampaikan kepada para shahabat dan dipeliharanya lalu disampaikan kepada tabi’in, tabi’ al-tabi’in secara berkesinambungan dari generasi ke generasi hingga akhirnya ditadwinkan pada abad ke V (458 H.).

Adab menulis al-Hadits adalah :

  1. Ditulis semua unsurnya, yang meliputi : rawi, sanad dan matan sebagai mana yang terdapat dalam al-Mashadir al-Ashliyah.
  2. Ditulis dengan menampilkan sebagian rawinya,  yaitu  rawi pertnma dan terakhir, sebagian sanadnya, yaitu  sanad pertama dan terakhir dan semua matannya, sebagai mana terdapat dalam kitab takhrij, seperti Bulugh al-Maram.
  3. Ditulis sebagian rawi, sanad dan matan sebagai mana yang terdapat dalam kitab ‘ilmu.

Al-Qur’an dan al-Hadits walaupun keduanya sebagai sumber ajaran Islam, diantara keduanya terdapat perbedaan, yaitu :

a.   Teks dalam al-Qur’an disebut ayat dan teks dalam hadits disebut matan;

b.   Kitab al-Qur’an disebut mushhaf dan kitab hadits disebut diwan.

c.    Turunnya al-Qur’an disebut dengan istilah nuzul dan turunnya hadits disebut wurud;

d.   Unsur (rukun) al-Qur’an hanya satu, yaitu ayat, karena kodifikasi al-Qur’an sudah final pada masa Nabi Saw. dan unsur pada hadits ada tiga, yaitu : rawi, sanad dan matan, karena kodifikasi hadits baru dimulai pada tahun 101 H. dan selesai pada tahun 458 H.

 

11. Jelaskan jenis hadits dari segi jumlah rawi – buat bagan – bila hadits tersebut hanya satu, apakah hadits itu mutawatir atau ahad?

Hadits ditinjau dari segi jumlah rawinya terbagi pada dua bagian, yaitu :

a.    Mutawatir adalah hadits yang didasarkan pada panca indra yang diberitakan oleh orang banyak yang mustahil menurut kebiasaan mereka sepakat untuk berdusta.

Bertitik tolah dari ta’rif ini, maka hadits mutawatir memiliki beberapa syarat, yaitu :

(1) Pemberitaan hadits mutawatir harus mahsus, artinya harus berdasarkan tanggapan panca indra, baik indra pendengaran atau penglihatan;

(2) Jumlah rawi yang memberitakannya banyak, minimal empat rawi perthabaqah dan mereka menurut kebiasaan mustahil sepakat untuk berdusta; dan

(3) Setiap thabaqahnya harus ada keseimbangan.

Hadits mutawatir terbagi pula pada tiga bagian, yaitu :

(1)  lafdzhi, artinya lafad dan makna hadits itu  sama;

(2)  ma’nawi, artinya lafad dan maknanya berbeda, tetapi ada terdapat keumuman makna sama;

(3) ‘amali, yaitu hadits mutawatir yang isinya berupa ‘amaliah dan sunnah.

b.   Ahad, yaitu hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

Hadits ahad terbagi pada tiga bagian, yaitu :

(1) Masyhur adalah hadits yang diriwatkan oleh oleh tiga oraang atau lebih, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir.

(2)  ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi.

(3)  Gharib adalah hadits yang terdapat penyendirian dalam sanad, di mana saja terjadinya.

Bila hadits itu hanya satu, maka hadits itu disebut hadits ahad.

Untuk lebih lengkapnya sebagai mana terdapat pada bagan di bawah ini :

 

 

 

12. Bagaimana keberadaaan hadits mutawatir – bagaimana kehujahan/faidah hadits mutawatir dalam tasyri’ – bedakan antara al-Qur’an, hadits mutawatir, dan hadits ahad?

Keberadaan hadits mutawatir adalah :

a.    Mutawatir dengan tiga syarat di atas adalah jarang;

b.   Mutawatir tidak dalam setiap thabaqahnya adalah banyak;

c.    Mutawatir yang dalam setiap thabaqahnya tidak mencapai empat orang rawi, tetapi terdapat qarinah yang menunjukkan bahwa rawinya banyak, seperti Nabi Saw. bersabda di depan banyak orang, maka mutawatir seperti ini banyak.

Kehujahan / faidah hadits mutawatir dalam tasyri’ menghasilkan ilmu dlaruri yang qath’i, berbeda dengan ahad, memiliki kehujahan dzanni.

Perbedaan antara al-Qur’an, hadits mutawatir dan hadits ahad :

Nama

Jelas & Kesamarnya

Wurud

Dalalah

       

Al-Qur’an

Muhkamat

Qath’iy

Qath’iy

Mutasyabihat

Qath’iy

Dzhanniy

Hadits Mutawatir

Muhkamat

Qath’iy

Qath’iy

Mutasyabihat

Dzhanniy

Dzhanniy

Hadits Ahad

Muhkamat

Dzhanniy

Dzhanniy

Mutasyabihat

Dzhanniy

Dzhanniy

 

13. Buat bagan taqsim hadits dari segi matan – jelaskan sesnsinya masing-masing – tunjukkan pada teks – bedakan anatara marfu’ qauli haqiqi dan hukmi?

Taqsim hadits ditinjau dari segi matannya adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

Fi’li

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Esensi dari macam-macam hadits di atas adalah :

  1. Hadits qauli adalah hadits yang matannya berbentuk perkataaan. Fenomenanya bunyi yang keluar dari mulut;
  2. Hadits fi’li adalah hadits yang matannya berbentuk perbuatan, Fenomenanya gerak;
  3. Hadits taqriri adalah hadits yang matannya berbentuk taqrir, yakni sikap atau keadaan mendiamkan, tidak mengadakan tanggapan atau menyetujui terhadap apa yang dilakukan atau diperbuat oleh shahabat. Fenomenanya kesan/ajaran dari suatu peristiwa;
  4. Hadits hammi adalah hadits yang matannya berupa rencana/cita-cita yang belum dikerjakan, yang sebenarnya termasuk qaul;
  5. Hadits qudsi Hadits yang matannya secara lafadl di-idlafahkan kepada Nabi Saw.dan secara makna kepada Allah Swt.
  6. Hadits marfu’ adalah hadits yang matannya diidlafahkan kepada Rasulullah Saw.

Hadits marfu’ terbagi pada dua bagian, yaitu haqiqi dan hukmi. Perbedaanya adalah bahwa hadits marfu haqiqi  peng-idlafah-annya kepada Rasulullah Saw. dengan jelas. Sedang hadits marfu’ hukmi peng-idlafah-annya kepada Rasulullah Saw. tidak secara jelas, tetapi karena ada suatu tanda, maka dapat dinilai-dihukum marfu’.

  1. Hadits mauquf adalah hadits yang matannya diidlafahkan kepada shahabat;
  2. Hadits maqthu adalah hadits yang matannya diidlafahkan kepada tabi’in.

 

14. Buat bagan taqsim hadits dari persambungan sanad – jelaskan arti masing-masingnya – tunjukkan esensinya dengan menggunakan teks!

Taqsim hadits ditinjau dari segi persambungan sanadnya adalah sebagai berikut :

 

Muttashil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hadits muttashil adalah hadits yang sanadnya bersambung-sambung, artinya rawi murid bertemu (liqa) dengan rawi guru. Liqanya murid dengan guru adalah karena setempat, seprofessi atau sejaman.
  2. Hadits munfashil adalah hadits yang sanadnya terputus (inqitha);
  3. Hadits mursal adalah hadits yang sanadnya terputus di rawi pertama;
  4. Hadits mu’allaq adalah hadits yang sanadnya terputus di guru mudawwin;
  5. Hadits munqathi adalah hadits yang sanadnya terputus di sembarang tempat dalam sanad;
  6. Hadits mu’dlal adalah hadits yang sanadnya terputus dua orang rawi dalam dua thbaqah secara berturut-berturut.

Contoh pada tex :

           حدثني حرملة بن يحي انبأنا بن وهب قال اخبرني يوسف عن ابن شهاب عن ابن سلامة بن عبد الرحمن عن ابي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صعلم, قال من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم جاره و من كان يؤمن بالله و اليوم الاخر فليكرم ضيفه (رواه مسلم)

  1. Hadits ini jika Abu hurairah dipandang liqa dengan Ibnu Salamah bin ‘Abdirrahman, dan Ibnu Salamah bin ‘Abdirrahman juga liqa dengan Ibnu Shihab, Ibnu Syihab liqa dengan Yusuf, Yusuf liqa dengan Ibnu Wahab, Ibnu Wahab liqa dengan Harmalah bin Yahya dan terakhir Harmalah bin Yahya liqa dengan mudawwin Muslim, maka haditsnya disebut hadits muttahil;
  2. Jika sabda Rasulullah ini secara langsung diterima oleh Ibnu Salamah bin ‘Abdirrahman, tanpa menyebutkan Abu Hurairah, maka hadits seperti ini disebut hadits mursal.
  3. Jika misalnya Muslim (mudawwin) menerima langsung dari Ibnu Wahab, tanpa menyebutkan Harmalah bin Yahya, maka disebut hadits mu’allaq;
  4. Jika misalnya Ibnu Wahab menerima langsung dari Ibnu Syihab, tanpa menyebutkan Yusuf, maka disebut hadits munqathi';
  5. Jika misalnya Ibnu Wahab menerima langsung dari Ibnu Salamah bin ‘Abdirrahman, tanpa menyebutkan Yusuf dan  Ibnu Syihab, maka disebut hadits

 

 

 

 

 

 

 

  1. Buat bagan taqsim hadits dari segi keadaan sanad – jeloaskan arti masing-masing – tunjukkan pada teks!

Taqsim hadits ditinjau dari segi keadaan sanadnya adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hadits mu`an`an adalah hadits yang periwayatannya dengan sanad yang memakai lafad  عن (dari), yang biasanya menunjukkan, bahwa mudawwin tidak tahu dengan cara apa rawi menerima hadits.
  2. Hadits mu’annan adalah hadits yang periwayatannya dengan sanad yang memakai lafad  أن .
  3. Hadits ‘ali adalah hadits yang sedikit sanadnya sampai kepada Nabi Saw.. Rata-rata 2 perthabaqahnya.
  4. Hadits nazil adalah hadits yang sanadnya mempunyai jumlah rawi yang banyak, rata-rata 2 ke atas perthabaqahnya.
  5. Hadits musalsal adalah hadits yang mempunyai persamaan dalam sifat rawinya. Misalnya sama-sama laki-laki atau sama-sama orang syi’ah.
  6. Hadits mudabbaj adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat dua orang rawi yang saling meriwayatkan. Misalnya antara Anas dan ‘Aisyah.

 

 

Contoh :

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرَانِي اللَّيْلَةَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَرَأَيْتُ رَجُلًا آدَمَ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ لَهُ لِمَّةٌ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنْ اللِّمَمِ قَدْ رَجَّلَهَا فَهِيَ تَقْطُرُ مَاءً مُتَّكِئًا عَلَى رَجُلَيْنِ أَوْ عَلَى عَوَاتِقِ رَجُلَيْنِ يَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ فَسَأَلْتُ مَنْ هَذَا قِيلَ هَذَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ثُمَّ إِذَا أَنَا بِرَجُلٍ جَعْدٍ قَطَطٍ أَعْوَرِ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّهَا عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ فَسَأَلْتُ مَنْ هَذَا فَقِيلَ لِي هَذَا الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ (مالك, 1435, الكتاب : الجامع, الباب : ماجاء في صفة عيسى ابن مريم و الدجال)

Adanya lafad عن yang digaris bawah dan dicetak tebal menunjukkan, bahwa hadits itu disebut hadits mu’an’an. Dan adanya lafad  ان  yang bergaris bawah dan dicetak tebal menunjukkan hadits itu disebut mu`annan.

 

Dan sehubungan Imam malik dalam meriwayatkan hadits menggunakan sanad yang jumlah rawinya sedikit, yaitu Nafi’ dan ‘Abdillah bin ‘Umar, maka disebut hadits ‘ali. Berbeda dengan yang diriwayatkan Muslim dengan matan seperti di atas menggunakan sanad yang jumlah rawinya banyak, yaitu :

           حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى عَنْ نَافِعٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا

      (1) Ibrahim bin al-Mundzir, (2) Abu Dlamrah, (3) Musa, (4) Nafi’, (5) ‘Abdullah bin ‘Umar.

16. Apa arti lafad sanad – lafad tersebut menunjukkan apa – uraikan jenis system riwayah dengan kaifiyah dan shigahnya – tunjukkan pada teks!

Lafad sanad adalah shighah yang digunakan untuk penulisan sanad berdasarkan system riwayahnya.

Lafad tersebut menunjukkan kaifiyah riwayah/kaifiyah tahammul wa al-ada, yang semuanya ada delapan macam, yaitu :

a.    السماع , yaitu system riwayah yang menunjukkan, bahwa guru berbicara dan didengar oleh rawi murid. Shighahnya adalah  اخبرنا\اخبرني, حدثنا\حدثني, سمعت\سمعنا

b.   القرائة , yaitu system riwayah yang menunjukkan, bahwa guru mempunyai naskah dan diserahkan kepada rawi murid untuk dibaca dan diizinkan untuk diriwayatkannya. Shighahnya adalah : قرأت عليه, قرأ على فلان و انا اسمع,

حدثنا و أخبرنا قرائة عليه

c.    ايحازة , yaitu system riwayah yang menunjukkan, bahwa guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadits darinya atau dari kitab-kitabnya. Shighahnya adalah :

اجزت لك رواية الكتاب الفلاني عني – اجزت لك جميع مسوعاتي او مروياتي

اجزت لك للمسلمين جميع مسموعاتي

d.   مناولة Sistem riwayah yang menunjukkan, bahwa guru menyampaikan naskah tanpa dibaca dan ditulis.

1)   Pemberian ijazah : هذا سماعي او روايتي عن فلان فاروه   Shighahnya adalah :

انبأنا, انباني

2)  Tidak diberi ijazah : هذا سماعى او من روايتي . Shighahnya adalah : ناولني – ناولنا

e.    مكاتبة , system riwayah yang menunjukkan, bahwa guru menulis hadits sendiri atau mnyuruh orang lain untuk menuliskannya. Shighah yang digunakannya adalah :

1)   Dibarengi ijazah :  اجزت لك ما كتبته اليك

2)   Tidak dibarengi ijazah :  قال حدثنا فلان – حدثني فلان كتابة –

اخبرني فلان كتابة – كتب الي فلان

  1. وجادة , yaitu system riwayah yang menunjukkan, bahwa rawi murid menerima hadits dari naskah gurunya dengan tanpa bertemu dengan gurunya itu. Shighahnya adalah :

قرأت بخط فلان – وجدت بخط فلان , حدثنا فلان

h.   وصية , yaitu system riwayah yang menunjukkan, bahwa guru menyampaikan pesan ketika akan berangkat atau meninggal. Shighahnya adalah :

اوصى الي فلان بكتاب قال فيه حدثنا الى اخره

i.    اعلام   , yaitu system riwyat yang berupa pemberitahuan guru kepada muridnya, bahwa hadits yang diriwayatkannya adalah riwayatnya sendiri yang diterima dari gurunya dengan tanpa disertai suruhan agar muridnya meriwayatkannya. Shighahnya adalah  :

اعلمني فلان قال حدثنا

Shighah-shighah tersebut dapat dilihat pada teks hadits Harmalah di atas, yaitu

           حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى عَنْ نَافِعٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا

17. Apa ma’na kehujahan hadits – jelaskan maksud unsure hujah tersebut – ditunjukkan oleh apa kehujahan hadits?

Kehujjahan hadits adalah kafasitas hadits sebagai :

a.    manhaj  amaliah syari’at (panduan pengamalan agama);

b.   bayan al-Qur’an;

c.    dalil mustanbath.

Kehujjahan hadits ditentukan oleh kwalitas (martabat) dan ta’ammul (pengamalan).

 

18. Rinci kualitas hadits dan sebutannya – apa kaidah/makna hadits shahih dan hadits hasan – apa kriterianya masing-masing – tunjukkan hal tersebut pada teks!

Kwalitas hadits terbagi pada dua bagian, yaitu maqbul dan mardud.

Maqbul adalah hadits yang dapat diterima sebagai hujjah, yang sebutannya shahih dan hasan.

Dan mardud adalah hadits yang ditolak sebagai hujjah, yang sebutannya dla`if.

a.    Hadits shahih adalah hadits yang menurut pemeriksaan benar datangnya dari Nabi Saw., karena orang-orang yang meriwayatkannya itu ‘adil dan kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, tidak ada ‘ilah dan tidak syad (bertentangan dengan yang lebih kuat). Berdasarkan pengertian ini, maka hadits shahih memiliki lima kriteria, yaitu :

1)   Rawinya harus ‘adil, yakni memiliki ketaqwaan dan muruah (menghindari pekerjaan yang dapat menyebabkan kecacatan rawi untuk memelihara kewibawaan, walaupun keadaannya mubah);

2)   Rawinya harus dlabith tam, artinya terpelihara ingatannya. Dlabth terbagi pada dua bagian, yaitu : Dlabth shadr, yaitu meliputi : qawiyy al-hifdzh, qawiyy al-dzikr dan qawiyy al-fahm; dan dlabth kitab.

3)   Sanadnya muttashil, artinya sambung menyambung, artinya guru dan murid terjadi liqa;

4)   Marfu`, artinya idlafah kepada Nabi Saw.

5)   Di dalamnya tidak ada `illah (cacat), artinya tidak ada penambahan, pengurangan dan penggantian.

6)   Di dalamnya tidak terdapat syad (kejanggalan), artinya tidak bertentangan dengan yang lebih kuat misalnya al-Qur’an dan hadits mutawatir dan tidak bertentangan pula dengan akal sehat.

b.   Hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil,  kurang kuat ingatannya (khafif al-dlabth), bersambung-sambung sanadnya, tidak ada ‘illah dan tidak ada syad (bertentangan dengan yang lebih kuat). Berdasarkan pengertian ini, maka hadits hasan sama dengan shahih  memiliki enam syarath. Hanya saja hadits hasan syarath dlabth-nya tidak seperti hadits shahih, yaitu khafif al-dlabth.

Teks hadits Harmalah di atas yang sanadnya sebagai berikut :

حدثني حرملة بن يحي انبأنا بن وهب قال اخبرني يوسف عن ابن شهاب عن ابن سلامة بن عبد الرحمن عن ابي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صعلم

Jika semua rawinya yang dicetak tebal dan bergaris bawah adalah adil dan dlabith, sanad pertama mulai dari Harmalah ittishal dengan sanad kedua dan seterusnya sampai terakhir (Abu Hurairah), juga tidak ada `illah dan syad, maka disesbutlah hadits shahih. Tetapi jika salah seorang rawinya pada sanad tersebut ada yang ingatannya lemah (khafif al-dlabth), maka haditsnya disebut hasan.

 

19. Buat bagan hadits mardud – hal apa saja yang menyebabkan hadits itu berkualitas mardud – apa kriterianya masing-masing – tunjukkan hal tersebut pada teks!

Hadits mardud terbagi pada beberapa bagian sebagai mana terdapat pada bagan di bawah ini :

 

 

Penyebab kemardudan suatu hadits adalah tidak terpenuhinya syarat hadits shahih ataupun hasan. Adapun syarat-syaratnya adalah :

  1. Rawinya tidak adil dan tidak dlabith, yang secara terperinci meliputi rawinya : pendusta, tertuduh dusta, fasiq, lengah hafalan, waham, sisipan, putar balik, tukar rawi, rubah syakal, rubah titik, jahalah, bid’ah, beda riwayat dan lanjut usia;
  2. Sanadnya terputus / tidak bersambung;
  3. Tidak disandarkan kepada Nabi Saw.

Teks hadits Harmalah di atas jika rawi-rawi dan sanadnya walaupun sebagiannya ada kesesuaian dengan salah satu syarat saja sebagai mana tercantum di atas, maka digolongkan pada hadits mardud.

 

20. Jelaskan kaidah transformasi/kenaikan kualitas hadits: shahih dan hasan lidzatih dan ligairih – muttabi’ dan syahid – atas dasar itu, jadi bagaimana kualitas hadits dla’if itu?

Hadits hasan sebagai mana tersebut di atas jika ada muttabi’ atau syahid, maka kwalitasnya  naik menjadi hadits shahih lighairih.

Demikian pula hadits dla’if selain maudlu, matruk dan munkar jika ada muttabi’ atau syahid, maka kwalitasnya naik menjadi hadits hasan lighairih.

Adapun yang dimaksud muttabi’  adalah mengikuti periwayatan rawi lain sejak gurunya yang terdekat atalu gurunya guru yang terdekat itu. Muttabi’ ada dua macam, yaitu :

a.    Muttabi’ tam, yaitu jika periwayatan muttabi’ itu mengikuti periwayatan gurunya yang terdekat sampai gurunya yang terjauh.

b.   Muttabi’ qashir, uaitu jika periwayatan muttabi’ itu hanya mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja.

Syahid adalah teks matan hadits lain yang diriwayatkan shahabat sama. Dan syahid ada dua macam pula, yaitu :

a.    Syahid bi al-lafdzh, yaitu jika matan hadits lain yang diriwayatkan shahabat itu ada kesesuaian dalam bentuk redaksi dan maknanya;

b.   Syahid bi al-ma’na, yaitu jika matan hadits lain yang dirawayatkan shahabat itu hanya sesuai dalam segi maknanya, tidak dalam redaksinya.

Atas dasar itu pada dasarnya hadits dla’if itu mardud, tetapi berkwalitas maqbul jika ada muttabi’ atau syahid dan sebutannya hadits hasan lighairih.

21. Sebutkan cara untuk menentukan kualaitas hadits – jelaskan praktek tashhih dan i’tibar : diwan, syarah, dan fan !

Kwalitas hadits dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu :

a.    Tashhih, yaitu menentukan kwalitas hadits berdasarkan kaidah dirayah dengan menilai rawi, sanad dan matan sesuai dengan kriterianya dengan menggunakan ilmu hadits.

b.   I’tibar, yaitu menentukan kwalitas hadits berdasarkan petunjuk :

1)   Diwan, yakni menentukan kwalitas hadits berdasarkan petunjuk dari kitabnya, sebab menurut konvensi muhadditsin, bahwa jenis kitab dapat menentukan kwalitas haditsnya. Misalnya :

-     Kitab shahih menunjukkan haditsnya Shahih.

-     Kitab Sunan menunjukkan haditsnya mungkin shahih, hasan atau dla’if namun tidak sampai 3 M (maudlu, matruk dan munkar).

-     Kitab Musnad dan Muwatha menunjukkan haditsnya mungkin shahih, hasan, atau dla’if bahkan bisa sampai 3 M.

2)   Kitab Syarah, yakni menentukan kwalitas hadits berdasarkan petunjuk dari kitab syarah. Misalnya kitab syarah Bukhari bernama Fath al-Barri, dan kitab syarah Sunan Abu Dawud bernama ‘Aun al-Ma’bud.

3)   Kitab Fan, yakni menentukan kwalitas hadits berdasarkan petunjuk dari kitab ilmu (tauhid, fiqih atau akhlak). Misalnya :

-     Kitab Bulughul Maram sebagai kitab fiqih.

-     Kitab Riyadl al-Shalihin sebagai kitab tauhid dan akhlak.

 

22. Bagaimana kaidah ta’ammul/tathbiq hadits maqbul – jelaskan kaidah tersebut bila hadits maqbulnya satu atau dua sama dan dua tanaqud ta’arud  – praktekkan pada teks !

Ta’ammul / tathbiq hadits maqbul adalah sebagai berikut :

a.    Jika hadits maqbul itu ada satu atau dua bahkan lebih, tetapi semuanya sama, maka untuk menentukan ma’mul dan ghair ma’mulnya dilihat dari segi muhkam dan mutasyabihnya.

1)   Muhkam adalah lafad suatu hadits yang maknanya jelas dan tegas serta mudah untuk mengamalkannya.

2)   Mutasyabih adalah lafad suatu hadits yang maknanya tidak jelas dan tidak tegas serta sulit untuk mengamalkannya.

b.   Jika hadits maqbul itu ada dua atau lebih tetapi terjadi tanaqud (berbeda) atau ta’arud (berlawanan), maka untuk menentukan ma’mul dan ghair ma’mulnya ditempuh empat thariqah, yaitu :

1)   Thariqat al-jam’I, yaitu mengkompromikan dua hadits yang tanaqudl/ta’arudl dengan memperhatikan waktu, pengamalan  orang yang mengamalkan dan cara mengamalkannya. Jika dapat dikompromikan, maka keduanya dapat diamalkan. Dan haditsnya disebut mukhtalif.

Contoh :

لا تكتبوا عني شيئا غير القران ومن كتب عني شيئا غير القران فليمحه

Hadits ini berlawanan dengan perintah  Rasulullah kepada salah seorang shahabat:

اكتبوا لابي شاة

Kedua hadits yang berlawanan ini dapatlah dikompromikan dengan jalan :

a)   Kedua hadits di atas menurut Imam al-Syafi’I waktu wurudnya tidak sama.

b)   Hadits pertama terjadi di awal kenabian dan hadits kedua terjadi di akhir kejadian.

c)   Hadits pertama ditujukan kepada para penulis dan hadits kedua ditujukan bukan kepada para penulis wahyu.

d)   Hadits pertama ditujukan kepada orang yang kuat hafalannya dan hadits kedua diperuntukkan buat orang yang lemah hafalannya.

e)   Hadits pertama bersifat resmi dan hadits kedua bersifat perorangan.

2)   Thariqat al-Tarjih, yaitu mencari nilai lebih atau mencari keunggulan di antara dua hadits yang maqbul – tanaqud dari segi rawi, sanad dan matannyadi luar kemaqbulan atau keshahihannya.   Yang unggul diamalkan disebut rajah dan yang tidak unggul tidak diamalkan disebut marjuh.

Contoh :

a)   Kibar shahabat lebih rajih (arjah) dari pada shighar al-shahabat.

b)   Hadits yang bukan mu’an’an lebih rajih dari pada mu’an’an.

c)   Hadits ‘Ali lebih rajih dari dari pada hadits nazil.

d)   Hadits muannan lebih rajih dari pada yang ghair muannan.

e)   Hadits ‘aziz lebih rajih dari pada hadits gharib.

f)    Hadits qauli lebih rajih dari pada hadits fi’li.

g)   Hadits Bukhari lebih rajih dari pada hadits Muslim, dsb.

3)   Thariqat al-naskh, yaitu membandingkan waktu wurudnya. Yang wurudnya lebih dahulu adalah ghair ma’mul dan disebut mansukh dan yang wurudnya belakangan adalah ma’mul dan disebuth nasikh.

4)   Thariqt al-tauqif, yaitu apabila hadits-hadits maqbul yang ta’arrud itu tidak bisa diambil langkah thariqat al-jam’I, thariqat al-tarjih dan thariqat al-naskh, maka semua hadits itu didiamkan/ ditangguhkan pengamalannya.

Contoh : Jika misalnya hadits tentang larangan menulis dan perintah menulis di atas itu tidak diketahui hal ihwal yang lima di atas, maka kedua hadits di atas pengamalannya ditangguhkan/dibekukan (tawaquf).

 

23. Apa makna atakhrij hadits – sebutkan konotasi dan praktek takhrij dalam perkembangan hadits – rinci langkah takhrij sebagai metode studi hadits – buat anatomi tautsiq, tashhih-I’tibar, dan syarah-naqd hadits!

Takhrij menurut lughah berarti   التوجيه (menghadapkan/menjelaskan), التدريب   (melatih/meneliti),  الاستنباط (mengeluarkan).

Adapun menurut istilah adalah

الدلالة على موضع الحديث في مصادر الاصلية التي اخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة

Penunjukkan pada tempat hadits dalam sumber-sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya sesuai dengan keperluan.

      Selain dari itu takhrij dapat berarti :

a.    Ikhraj, yang semakna dengan riwayah yang meliputi : naql, dlabth, dan tahrir. Berlangsung sejak Nabi Saw. sampai pentadwinan (berakhir tahun 458 H.).

b.   Istikhraj, semakna dengan naql dan tasjil (menyusun), yakni mengutip hadits dari kitab-kitab kemudian menyebutkan sanad-sanadnya. Kitaabnya disebut mustakhraj.

c.    Dilalah, menukil hadits dari kitab-kitab sumbernya (diwan hadits) dengan menyebut mudawwinnya dan dijelaskan martabatnya. Berlangsung sejak ada kitab hadits.

Takhrij dengan makna dilalah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

a.    التوثيق\الاخد\النقل . Kegiatan ini menurut Mahmud Thahan dapat dilakukan dengan cara :

1)   Jika nama shahabatnya sudah diketahui, maka kitab yang digunakan adalah kitab musnad.

2)   Jika lafad awal suatu hadits sudah diketahui, maka kitab yang digunakannya adalah Jami’ al-Shaghir.

3)   Jika sembarang lafad dari suatu hadits sudah diketahui,  maka kitab yang digunakannya adalah Al-Mu’jam al-Fakhras li Alfadzh al-haditsal-Nabawi.

4)   Jika maudlu suatu hadits sudah diketahui, maka kitab yang digunakannya adalah Mushannaf.

5)   Jika sifat rawi, sanad dan matan suatu hadits sudah diketahui maka kitab yang digunakannya adalah kitab khusus.

Bisa ditambahkan dengan cara menggunakan CD.

b.   التصحيح .(keterangannya telah dibahas di no. 21)

c.    الاعتبار\القرينة . .(keterangannya telah dibahas di no. 21)

d.   الشرح و النقد و البحث

Langkah-langkah takhrij secara operasional adalah :

a.    Teks dan Syahid Hadits. Ditempuh dengan langkah kegiatan :

1)   Tauatsiq, dengan cara sebagai mana tersebut di atas.

2)   Menuliskan hadits dan terjemahnya.

b.   Unsur dan Diagram Hadits. Ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1)   Mengemukakan rawi dan sanad hadits, dengan catatan : rawi yang sama digabungkan lalu tulis semua rawinya sesuai urutan lahir danwafatnya.. Contoh :

Kitab        A :       1)         2)         3)         4)         5)         6)         7)

B :       1)         2)         3)         4)         5)         6)

C :       1)         2)         3)         4)         5)         6)         7)

Urutan Rawi : 1)  2)         3)         4)         5)         6)         7)         8)         9)

2)   Matan Hadits : perbandingan.

3)   Diagram Hadits. Contoh :

Rawi/ Sanad

Lahir

Wafat

Rutbah, Tjjrih & Ta’dil

Thabaqah

1.          
2.          
3.          
4.          

c.    Jenis dan Kualifikasi Hadits :

Rawi   : Mutawatir – Ahad.

Matan : Bentuk – Idlafah.

Sanad  : Ittishal

Keadaan.

d.   Kwalitas Hadits. Melalui :

Tashhih, dengan menilai rawi (adil dan dlabithnya), sanad (muttashil dan munfashilnya) dan matan.

e.    Tathbiq dan Ta’ammulnya hadits.

f..   Makna Mufradat dan Maksud Hadits.

g.   Asbab Wurud Hadits.

h.   Istinbath Al-Ahkam (Kaidah)

i.    Problematika, Tafhim dan Tathbiq  (Syarah dan Musykilat)

j.    Khulashah dan Natijah.

 

24. Jelaskan ma’na tasyri’ – apa dasar tasyri’ – jjelaskan masisng-masisng – mengapa rutbah hadits dan al-Qur’an beda ?

Tasyri’ maknanya adalah mengembangkan syari’at.

      Syariah maknanya adalah :

a.    Secara luas (kaffah) adalah berarti din al-Islam yang meliputi iman, islam dan ihsan. Dan ke dalam syari’ah termasuk juga sunnatullah.

b.   Dalam pengertian pertengahan (medium) adalah Islam sebagai bagian dari ihsan dan iman.

c.    Secara specific adalah hukum Islam yang bersifat terbatas / fiqih.

Dasar tasyri’ secara rutbah (susunan yang gradatif/bertingkat dan primatif /meliputi) adalah :

a.    Al-Qur’an, yakni kitab Allah yang bersifat qath’i.

b.   Al-Hadits, yakni sesuatu dinisbahkan kepada Nabi Saw. yang bersifat dzhanni;

c.    Al-Ijtihad, secara makro berarti kesungguhan dalam pengerahan segala potensi. Dan secara luas berarti :

1)   Tafhim al-Qur’an yang disebut tafsirdan tafhim al-Hadits yang disebut syarah.

2)   Takhrij al-ahkam wa al-hikmah min al-Qur’an wa al-Hadits yang metodologinya menggunakan ushul fiqih, yang meliputi qawa’id lughawiyah, fiqhiyyah/’aqliyyah dan dauqiyyah.

3)   Tatsabbut, yakni menetapkan hukum  dan ajaran untuk sesuatu yang tidak diatur secara inplisit dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Rutbah al-Hadits dan al-Qur’an berbeda, sebab :

a.    Al-Qur’an adalah sebagai ashal dan al-Hadaits sebagai far’u;

b.   Al-Qur’an pada umumnya dalalahnya qath’i, kecuali yang mutasyabih dan al-Hadits pada umumnya wurud dan dalalahnya dzhanni, kecuali yang mutawatir.

c.    Secara ‘aqli, bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah. Dan yang dinisbahkan kepada Allah kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan yang dinisbahkan kepada Nabi Saw.

d.   Secara naqli terdapat nash sebagai berikut :

(#qãè‹ÏÛr&ur ©!$# tAqߙ§9$#ur öNà6¯=yès9 šcqßJymöè? (ال عمران : 132)

   تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله و سنتي (رواه الحاكم عن ابي هريرة)

Ketika Muadz bin Jabal diutus untuk menjadi Gubernur Yaman, Rasulullah bertanya :

كيف تقضي اذا عرض لك قضاء ؟ قال اقضي بكتاب الله قال فان لم تجد في كتاب الله قال فبسنة رسول الله ص م فان لم تجد في سنة رسول الله ص م و لا في كتاب الله ؟ قال اجتهد برأيي ولا الو (رواه ابو داود)

e.    Telah terjadi ijma’ pada masa shahabat untuk senantiasa  berittiba’ terhadap al-Hadits, baik di masa Rasulullah masih hidup atau sesudah wafat.

 

25. Jelaskan fungsi hadits sebagai bayan al-Qur’an – bedakan aantara madzhab fiqih – buat metric  dan deskirpsikan ayat al-Qur’an dan hadits bayannya!

Fungsi hadits sebagai bayan al-Qur’an, yakni hadits sebagai :

a.    Ta’kid wa taqrir, yaitu mengokohkan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an; Contoh :

صوموا لرأيته و افطروا لرأيته (متفق عليه عن ابي هريرة)

Adalah menguatakan Q.S. al-Baqarah : 185

فمن شهد منكم الشهر فليصمه

b.   Tafsir, yaitu menjelaskan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an; Contoh :

احلت لنا ميتتان و دمان. فاما الميتتان الحوت و الجراد و اما الدمان فالكبد و الطحال (روا ابن مجه و الحاكم)

Adalah sebagai tafsir bagi Q.S. Al-Maidah : 3

           ôMtBÌhãm ãNä3ø‹n=tæ èptGøŠyJø9$# ãP¤$!$#ur ãNøtm:ur ͍ƒÌ“Yσø:$#

c.    Tasyri’, yaitu menetapkan hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Contoh :

لا يجمع بين المرأة و عمتها و لا بين المرأة و خالتها (متفق عليه)

Ketentuan yang terungkap dalam hadits ini tidak terungkap di dalam al-Qur’an..

d.   Tabdil, yaitu merubah ketentuan hukum, baik pokok ataupun asalnya;

e.    Bashth wa tafshil, yaitu memperluaskan keterangan yang diringkaskan oleh al-Qur’an.

Ulama madzhab fiqih berbeda dalam menetapkan istilah bagi fungsi hadits sebagai bayan, yaitu sebagai berikut :

a.    Menurut Imam Abu Hanifah berfungsir sebagai : taqrir, tafsir, tabdil dan naskh.

b.   Menurut Imam Malik berfungsi sebagai : taqrir, taudlih, tafshil, tabshith, ta’wil dan tasyri’.

c.    Menurut Imam Al-Syafi’I berfungsi sebagai : tafshil, takhshish, ta’yin, tasyri dan naskh.

d.   Menurut Imam Ahmad berfungsi sebagai : ta’kid, tafsir, takhshish, taqyid dan tassyri’.

 

26. Apa ma’na tarikh hadits – jelaskan pentingnya – apa objek kkajiannya – buat bagan sejarah perkembangan hadits dengan tujuh periode – bandingkan dengan yang lima dan tiga periode!

Tarikh/sejarah hadits adalah masa yang dilalui hadits sejak wurudnya pada masa Nabi Saw. sampai perkembangan selanjutnya.

Urgensi mempelajari tarikh/sejarah hadits adalah :

  1. Sejarah adalah inheren (melekat) dalam setiap ilmu, karena ilmu tanpa sejarah tidak akan mapan;
  2. Bagi hadits sejarah itu penting, karena bagian dari ilmu hadits di dalamnya ada ilmu riwayah yang membicarakan tentang periwayatan sejak Nabi sampai dengan tahun 500 an H. dan masalah sirah.
  3. Dengan sejarah dapat diketahui perkembangan hadits (تطورات الحديث), problema hadits (مشكلات الحديث ) dan perjuangan hadits (تدبير الحديث ).

Yang dipelajari (objek) sejarah perkembangan hadits (SPH) adalah :

  1. Perkembangan hadits yang dikwalifikasikan (dibagi-bagi) ke dalam periode-periode, yakni pembabakan sejarah dengan menyebutkan karakteristik/cirri-cirinya.
  2. Biografi muhadditsin.

Ulama dalam menyusun Periodisasi Perkembangan Hadits tidak sama. Ada yang membagi pada 7 periode, 5 periode dan 3 periode. Sebagai mana tergambar pada bagan di bawah ini :

Peri

ode

Nama Periode

Berlangsung

Periode

Periode

I

عصر الوحي و التكوين :

Masa penurunan wahyu dan pembentukan masyarakan Islam.

Pada masa Rasulullah Saw. s.d. 11 H.

I

عصرحفظ السنة في الصدور

I

(Seratus tahun pertama)

عصر قبل التدوين

II

عصر التثبت و الاقلال من الرواية:

Masa pemantapan dan penyedikitan periwayatan.

Pada masa Shahabat Kecil dan Tabi’in Besar (11-40 H..).

III

عصر الانتشار الرواية الى الامصار:

Masa penyebaran riwayah ke daerah-daerah.

Pada masa shahabat kecil dan tabi’in besar, yakni pada masa pemerintahan Bani Umayah (41-100 H.).

IV

عصر الكتابة و التدوين :

Masa penulisan dan pengkodifikasian secara resmi.

Pada masa Amawiyah II dan Abasiah I (100-200 H.).

II

تدوينها مختلطة بالفتاوى

II

(100-300 H.)

عصر عند التدوين

V

عصر التجريد و التصحيح و التنقيح :

Masa penyaringan, pemeliharaan dan pelengkapan.

Pada masa Daulah Abasiyah I dan

Abasiyah II (200-300 H.).

III

افرادها بالتدوين

VI

عصر التهذيب و الترتيب و الاستدراك و الجمع :

Masa pembersihan, penyusunan, penambahan dan pengumpulan.

Pada masa Abbasiyah  II  (300-656 H.).

IV

تجريد الصحيح

III

(300-656 H.)

عصر بعد التدوي

VII

عصر الشرح و الجمع و التخريج و البحث عن الزوائد :

Masa pensyarahan, penggambungan, pentakhrijan, pengutipan dan penambahan.

Masa sesudah Abbasiyyah  (656 H.).

V

تهذيبها بالترتيت و الجمع و الشرح

Ulama yang membagi pada lima periode (antara lain Muhammad ‘Abd al-‘Aziz al-Khulli)  begitu pula yang membagi pada tiga periode menggolong-golongkan lagi periodisasi tujuh di atas.

a.    Periode I s.d. III (Abad I) baik oleh yang membagi pada lima ataupun tiga periode dikelompokkan pada periode pertama. Hanya yang membagi pada lima menyebutnya  عصرحفظ السنة في الصدور (masa pemeliharaan hadits melalui hafalan). Dan yang membagi pada tiga periode menyebutnya    عصر قبل التدوين(masa sebelum pentadwinan hadits secara resmi).

b.   Periode IV (abad II H.) oleh yang membagi pada lima periode digolongkan pada periode II, yang disebut periode  تدوينها مختلطة بالفتاوى (periode pentadwinan dan masih bercampurnya hadits dengan fatwa para shahabat dan tabi’in). Tetapi yang membagi pada tiga periode mengelompokkan periode IV dan V ke satu periode, yakni periode II, yang disebut عصر عند التدوين   (periode pelaksanaan tadwin secara resmi).

c.    Periode V (abad III H.) oleh yang membagi pada lima periode digolongkan pada periode III, yang disebut periode افرادها بالتدوين  (Periode pemisahan hadits dari fatwa shahabat dan tabi’in).

d.   Periode VI dan VII (mulai dari abad IV H.) oleh yang membagi pada lima periode sama dikelompokkan  pada dua periode, yakni periode IV dan periode V. Hanya sebutannya yang berbeda. Peiode IV disebutnya periode تجريد الصحيح   (periode penyeleksiaan keshahihan hadits) dan periode V disebutnya periode تهذيبها بالترتيت و الجمع و الشرح (periode pembersihan hadits, penyusunan, penggambungan dan pensyarahan hadits).

Oleh yang mengelompokkan pada tiga periode, mengumpulkan periode VI dan VII pada satu periode, yang disebut   عصر بعد التدوين (periode sesudah pengkodifikasian hadits).

Periode pertama disebut periode qabla al-tadwin. Meliputi periode عصر التثبت و الاقلال من الرواية, عصر التثبت و الاقلال من الرواية dan عصر الانتشار الرواية الى الامصار.

Disebut tatsabbut, karena shahabat mempunyai kelebihan, antara lain dijanjikan Allah sebagai ahli surga. Karena itu mereka sangat hati-hati . Dan para shahabat mengambil kebijakan iqlal (penyedikitan riwayat), karena :

1.   Para shahabat disibukkan dengan menghadapi peperangan, antara lain menumpas orang-orang murtad;

2.   Pada masa shahabat banyak terjadi fitnah psikologis, antara lain fitnah nepotis pada masa Khalifah ‘Utsman, pitnah dari orang Yahudi seperti Abdullah bin Saba dan fitnah perang Shifin.

3.   Pada masa shahabat juga banyak bermunculan fitnah dalam kehidupan, seperti terjadinya konplik dan adanya tahkim.

Sebagai akibat dari kebijakan penyedikitan riwayat, maka muncullah syubhat (Pandangan negative) tentang pribadi shahabat, antara lain :

1.   Shahabat dituduh tidak menggunakan hadits;

2.   Shahabat dianggap hanya menggunakan hadits selain ahad, yaitu hadits mutawatir;

3.   Shahabat dianggap lebih dominan menggunakan ijtihad, seperti Khalifah ‘Umar.

Bentuk penyedikitan riwayat adalah :

1.   Periwayatan hadits hanya sebatas dibutuhkan.

2.   Periwayatan hadits selalu disaring.

Pada periode ini hadits menyebar luas ke berbagai pelosok, karena pada periode ini daerah Islam sudah meluas dan ahli-ahli hadits banyak yang menjadi pejabat. Di samping itu para murid ketika melakukan pengecekan hadits harus melakukan rihlah.

Sisi positif dari adanya periode ini adalah banyak berdiri lembaga-lembaga hadits dan bermunculan para bendaharawan hadits.

Sisi negatifnya tidak terhindarkannya munculnya hadits-hadits palsu.

Periode Kedua disebut periode ‘inda tadwin. Meliputi عصر الكتابة و التدوين dan عصر التجريد و التصحيح و التنقيح.

Umar bin Abdul Aziz memprakarsai penulisan hadits dengan mengeluarkan kebijakan :

1.   انظروا ما كان من حديث الرسول فاكتبوه

2.  ذهاب العلماء و  فاني خفت دروس العلم

3.   لا تقبل الا حديث رسول الله صعلم

4.  ولتفشوا العلم و لتجلسوا حتى يعلم من لا يعلم فان العلم لا يهلك حتى يكون سترا

Dengan dikeluarkannya kebijakan ini, maka mulailah dilaksanakan pentadwinan hadits.

Alasan dikeluarkannya kebijakan agar dilakukan pendewanan hadits antara lain :

1.   Pada masa ini banyak bermunculan hadits-hadits palsu;

2.   Kekhawatiran akan bercampurnya al-Qur’an dan al-hadits sudah tidak ada lagi, karena al-Qur’an sudah selesai dibukukan.

3.   Pemeliharaan hadits hanya dengan hafalan tidak mungkin akan bisa dipertahankan secara terus menerus;

4.   Potensi untuk melakukan pentadwinan sudah tidak ada masalah, karena orang yang pintar menulis sudah banyak;

5.   Dengan berkembangnya filsafat, maka posisi hadits harus kuat dan jelas.

Pentadwinan dilakukan dengan tujuan :

1.   Untuk memelihara syari’at;

2.   Untuk efiesiensi penggunaan hadits dalam kehidupan ummat Islam;

3.   Untuk membedakan mana hadits yang asli dan yang tidak asli.

FASE-FASE TADWIN HADITS

Fase

Tahun

Corak

Sistem

Diwan

Mudawwin

I. Pertama

100-175

Campur

Tashnif

Al-Muwatha

Malik

II. Kwalifikasi

175-225

Pisah

Tasnid

Musnad

H, S, A, U, Y, M, IH.

III. Seleksi

225-300

Saring

Tashnif

Sunan

D, T, N, M, DR.

Shahih

B, M.

IV. Perluasan

300-500

1. Tashih

2. Istidrak

Tashnif

Sunan

Shahih

DR, BHR,  DL, IH, IK, IJ, AW, AK.

Setelah Abad Ke III H. :

   

3. Athraf

6. Jama’

9. Zawaid,

   

4. Istikhraj,

7. Syarah,

10. Spesialisasi
   

5. Takhrij,

8. Ikhtishar,

Keterangan :

Sebelum abad ke III disebut masa mutaqaddimin, dengan cirinya periwayatan hadits bersifat musyahadah.

Dan sesudah abad ke III dsisebut masa mutaakhkhirin, dengan cirinya para rawi tidak merasa perlu mengadakan pelawatan mencari hadits.

Periode ketiga disebut periode ba’da tadwin. Meliputi عصر التهذيب و الترتيب و الاستدراك و الجمع  dan عصر الشرح و الجمع و التخريج و البحث عن الزوائد.

Pada periode pekerjaan muhadditsin antara lain melakukan :

a.    Athraf, yakni menambah sanad yang berbeda.

b.   Takhrij.

c.    Istikhraj.

d.   Jama’

e.    Syarah.

f.    Ikhtisar.

g.   Zawaid (menambahkan).

h.   Spesialisasi.

 

27. Jelaskan inti dan probelmatika hadits qabla tadwin!

Inti hadits qabla tadwin adalah pada masa Nabi Saw. hadits wurud menyertai al-Qur’an dengan tujuan membangun masyarakat Islam yang kemudian pada masa sesudah beliau tersebar ke daerah-daerah Islam secara lebih meluas.

Problematika pada periode ini  adalah :

a.    Hadits dipelihara hanaya dalam bentuk ingatan dan hafalan, tanpa ditulis;

b.   Proses transformasi ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.

Sebagai akibat dari adanya kebijakan penyedikitan riwayat, maka lahirlah syubhat, yaitu:

c.   Shahabat dituduh tidak menggunakan hadits;

d.   Shahabat dianggap hanya menggunakan hadits selain ahad, yaitu hadits mutawatir;

e.   Shahabat dianggap lebih dominant menggunakan ijtihad, seperti Khalifah ‘Umar.

28. Jelaskan inti dan probelamatika hadits ‘inda tadwin!

Inti hadits ‘inda tadwin adalah :

a.    Meneliti hadits Rasul Saw., meneliti serta membukukannya.

b.   Hadits mulai ditulis, karena banyak para penghafal hadits yang wafat;

c.    Menyeleksi kwalitas hadits.

d.   Menyebarkan hadits dan membuat majlis ilmu hadits.

e.    Kekhawatiran akan terjajdi percampuran antara hadits dengan al-Qur’an sudah tidak ada.

Problematikanya adalah :

a.    Banyak terjadi bermunculan hadits palsu.

b.   Pemeliharaan hadits dengan hafalan sudah tidak mungkin lagi, karena kehidupan semakin komplek.

 

29. Jelaskan inti dan probelamatika hadits ba’da atadwin tadwin!

Inti hadits ba’da tadwin adalah :

a.    Adanya perluasan sisstem penelitian hadits.

b.   Penelitian kwalitas hadits dilakukan oleh para ulama hadits.

Problematikanya adalah :

 

30. Bedakan esensi dan peran rawi, mudawin dan muhadditsin sepanjang sejarah perkembangan hadits!

Rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits. Dan perannya adalah menerima, memelihara dan menyampaikan hadits

Muadawwin adalah orang yang mendewankan atau membukukan hadits ke dalam kitab diwan. Dan perannya adalah sebagai orang yang memelihara hadits sebagai dasar tasyri’.

Muhadditsin adalah orang-orang yang menguasai ilmu hadits, baik riwayah ataupun dirayah serta mampu mengungkapkan periwayatan dan hal ihwal rawinya. Dan perannya adalah :

a.    Sebagai orang yang menguasai hadits dan ilmu hadits;

b.   Sebagai peneliti hadits baik segi rawi, matan dan illat-illat hadits.

Kitab-Kitab Ilmu Hadits

Nama Irham Shidiq
Fak/Jur Ushuludin/Tafsir Hadits
Smester VII (Tujuh)
Mata Kuliah Membahas Kitab Hadits II
Dosen Sukardi, S.Ag
  1. 1.      Kitab Kamus Hadits
    1. Pengertian   : Kitab indeks hadits. Kitab yang berupaya mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab-kitab hadits tertentu kemudian diambil bagian kecilnya untuk dijadikan sampel dan ditampilkan dalam rumus-rumus tertentu.
    2. Fungsi         : Untuk mempermudah dalam pencarian hadits secara pembacaan cepat dan tematik berdasarkan kata kunci sesuai dengan karakter kitab kamus hadits tertentu
    3. Kedudukan : Dipandang penting kedudukannya dalam membantu pencarian hadits yang tersebar diberbagai kitab-kitab hadits.
    4. Metode       : Banyak varian dalam metode penyusunannya. Diantaranya ada yang berdasarkan kosa kata bahasa arab yang oleh orang arab sendiri jarang digunakan. Yang temasuk macam kitab ini seperti “al-Nihayah fi Gharib al-hadits wa al-Atsar” ; ada yang berdasarkan penyebutan kata kunci matan dalam beberapa hadits, seperti kitab “Al-Mu’jam al-Mufahrats li al-Fadz al-hadits al-Nabawi ‘an Kutub al-Sittah wa ‘an Musnad al-Darimi wa al-Muwaththa Malik wa Musnad Ahmad Ibnu Hanbal”, atau dengan kata lain, metode yang tersedia pada kitab-kitab kamus hadits yang sudah ada yaitu Mu’jam, Miftah, dan Athraf.
    5. Para Penulis :
  • Abu ‘Ubaid alQosim Ibnu Salam al-Harawi (224 H/832 M) mengarang kitab Gharib al-Hadits
  • ‘Alamah Jarullah Mahmud Ibnu ‘Umar al-Zamakhsyari, mengarang kitab al-Faiq fi Gharib al-Hadits
  • Majdu al-Din Abu Sa’adah al-Mubarak Ibnu Muhammad al-Jazari Ibnu al-Atsir (606 H), mengarang kitab Al-Nihayah fi Gharib al-hadits wa al-Atsar
  • Dr. A.W Weinsink, mengarang kitab Al-Mu’jam al-Mufahrats li al-Fadz al-hadits al-Nabawi ‘an Kutub al-Sittah wa ‘an Musnad al-Darimi wa al-Muwaththa Malik wa Musnad Ahmad Ibnu Hanbal
  1. 2.      Kitab Mu’jam, Athraf, Miftah
    1. Pengertian

Mu’jam    :   yaitu kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat, guru-gunya, tempat tinggal atau yang lainnya berdasarkan urutan alfabetis[1]

Athraf        :  kitab yang hanya menyebut sebagian hadits kemudian mengumpulkan  seluruh sanadnya, baik sanad sesuatu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab.[2]

Miftah        : Kitab takhrij yang disajikan dalam bentuk topik-topik hadits

  1. Persamaan : Sama-sama memasukan sejumlah hadits-hadits dari berbagai kitab hadits yang ditampilkan bagiannya saja dengan menggunakan rumus-rumus tertentu. (sama dalam fungsi dan kedudukannya)
  2. Perbedaan :    Perbedaan secara garis besar terletak pada metode aplikasi dari masng-masing kitab diatas; dimana mu’jam menggunakan metode penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat, guru-gunya, tempat tinggal atau yang lainnya berdasarkan urutan alfabetis, atharf menggunakan metode penyusunan menyebut sebagian hadits kemudian mengumpulkan  seluruh sanadnya, baik sanad sesuatu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab, dan miftah menggunakan metode penyusunan berdasarkan topik-topik hadits
  3. 3.      Spesifikasi Dan Judul Kitab Kamus Hadits STAI PERSIS

No

Nama Kitab

Nama Pengarang

Penerbit

Tahun Terbit

1 Gharib al-Hadits Abu ‘Ubaid alQosim Ibnu Salam al-Harawi (224 H/832 M) Daar al-Kutub ‘Arabiy (Beirut) Cet. Pertama
2 al-Faiq fi Gharib al-Hadits ‘Alamah Jarullah Mahmud Ibnu ‘Umar al-Zamakhsyari Daar al-Fikr (Beirut) 1414 H/1994 M
3 Al-Nihayah fi Gharib al-hadits wa al-Atsar Majdu al-Din Abu Sa’adah al-Mubarak Ibnu Muhammad al-Jazari Ibnu al-Atsir (606 H) Daar al-Fikr (Beirut) Cet. Ke-3 (1399 H/1979 M)
4 Al-Mu’jam al-Mufahrats li al-Fadz al-hadits al-Nabawi ‘an Kutub al-Sittah wa ‘an Musnad al-Darimi wa al-Muwaththa Malik wa Musnad Ahmad Ibnu Hanbal Dr. A.W Weinsink Maktabah Breill (Leiden) 1936 M
  1. 4.      Kitab Takhrij
    1. Pengertian : Kitab-kitab yang mengambil hadits dari sebuah kitab ulama hadits –dari kitab al-Bukhari umpamanya—lalu menyebut satu persatuannya dengan sanadnya sendiri, yakni mencari sanadnya sendiri dari selain jalan kitab ulama hadits tersebut –al-Bukhari tadi–  hingga berjumpa dengannya –al-Bukhari—pada gurunya –al-Bukhari—atau diatasnya lagi.[3]
    2. Kegunaan  : Untuk mengetahui tempat-tempat pengambilan hadits-hadits dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab tertentu.[4]
    3. Jumlah     : Banyak kitab-kitab takhrij yang lahir ditangan para ulama awal abad keenam sampai pertengahan abad keenam mulai dari pentakhrijan kitab-kitab yang lahir pada awal ketiga sampai abad ketujuh dan mencakup pentakhrijan diberbagai jenis kitab hadits.
    4. Macam     : kitab-kitab takhrij varian dalam objek pemilihannya. Ada yang berusaha mentakhrij kitab-kitab hadits yang sahih, mentakhrij kitab-kitab sunan, musnad, dan kitab-kitab jawami’ atau zawaid
    5. e.       Contoh     :
  • Takhrij Ahadits Tafsir al-Kasyaf, karangan al-Zaila’I (762 H)
  • Al-Kafi al-Syar;I Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, karangan Ibnu Hajar al-Asqolani
  • Takhrij Ahadits al-Baidhawi, karangan ‘Abd al-Rauf al-Manawi
  • Tuhfah al-Rawi fi Takhrij Ahadits al-Baidhawi, karangan Muhammad Hammad Zadah (1175 H)
  • Takhrij Ahadits al-Syarah Ma’ani al-Atsar (al-Hawi), karangan al-Thahawi
  • Takhrij Ahadits al-Adzkar, karangan Ibnu Hajar al-Asqolani
  • Takhrij Ahadits al-Misbah wa al-Misykah (Hujayah al-Ruwah ila Takhrij Ahadits al-Misbah wa al-Misykah), karangan Ibnu Hajar al-Asqolani
  • Manahi al-Safa fi Takhrij Ahadits Syifa, karangan al-Suyuthi
  • Takhrij Ahadits Minhaj al-Ushul, karangan al-Subki, Ibnu Mulaqqin, dan Zain al-Din al-‘Iraqi
  • Takhrij Ahadits Mukhtashar, karangan Ibnu al-Hajib, Ibnu Hajar, Ibnu Mulaqqin, dan Muhamad Ibnu ‘Abd al-Hadi (704 H)
  • Takhrij Ahadits al-Hidayah fi Fiqhi al-Hanafiyah (Nasbu al-Rayah li Ahadits al-Hidayah), karangan Jamal al-Din al-Zaila’i
  • Al-Dirayah fi Muntakhabi al-Takhrij Ahadits al-Hidayah, karangan Ibnu Hajar al-Asqalani
  • Takhrij Ahadits Ihya, karangan Zain al-Din al-‘Iraqi
  • Al-Maqasid al-Hasanah, karangan al-Sakhawi
  • Tashil al-Subul ila Kasyfi al-Libas, karangan ‘Izzu al-Din Muhammad Ibnu Ahmad al-Khalili (1507 H)
  • Kasyfu al-Khafa wa Muzil al-Albas, karangan Hafidz al-Ajaluni (1162 H). Tiggal kitab terakhir ini menurut catatan Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy adalah kitab-kitab takhrij yang terkenal dalam masyarakat.[5]
  1. 5.      Kitab-Kitab Rijal hadits
    1. Kedudukan                        : Kitab-kitab rijal hadits menjadi tinggi kedudukannya karena didalammya mencakup objek yang dikaji dalam ilmu rijal hadits. Jika dalam ilmu rijal hadits seperti yang dikatakan oleh Prof. TM Hasbi Ash-Shiddieqy[6] adalah separuh ilmu hadits, maka demikian pula kedudukan kitab-kitab rijal hadits. Karena keberadaannya merupakan aplikasi dari teori-teori ilmu rijal itu sendiri.
    2. Tingkat Akurasi Informasi  : Pada kitab-kitab rijal hadits tidak semuanya memiliki derajat yang sama dalam sisi akurasi informasinya, karena kita dapat melihat dalam beberapa kitab tersebut karya susulan sebagai tambahan ataupun koreksi terhadap kitab-kitab rijal yang lahir sebelumnya seperti kitab “Tahdzib al-Tahdzib” hadir sebagai tambahan-tamabahn kekurangan pada kitab “Tahdzib al-kamal”. Hal ini berlaku pada seluruh varian kitab-kitab rijal hadits.
    3. Metode penyusunan          : Pada bagian ini, metode penyusunan diklasifikasikan kepada beberapa kategori. Ada yang dilihat dari sisi kredibilitas perawi; seperti beberapa kitab jarah ta’dil yang menyebutkan para perawi kepercayaan dan lemah, yang lemah saja, yang mentadlis hadits, dan ada yang dilihat dari sisi thabaqahnya; seperti kitab-kitab yang meriwayatkan keadaan para perawi dari golongan sahabat, thabi’in dan seterusnya; ada yang dilihat dari sisi kemubhamannya seperti kitab-kitab “Tashif wa Tahrif” dll
    4. Judul Kitab Rijal Hadits Di STAI PERSIS :

No

Nama Kitab

Nama Pengarang

Penerbit

Tahun Terbit

1 Al-Tarikh al-Kabir Abu ‘Abdullah Ismail Ibnu Ibrahim alJa’fi al-Bukhari (256 H) Daar al-Kutub al-‘Ilmiah (Beirut)
2 Al-Dhu’afa al-Kabir Abu Ja’far Muhammad ‘Amr Ibnu Musa Ibnu Hammad al-‘Uqoili al-Maki Daar al-Kutub al-‘Ilmiah (Beirut) Cet. Pertama
3 Siyar ‘Alam al-Nubala Syamsu al-Din Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu ‘Utsman al-Dzahabi (748 H/1374 M) Muassisah al-Risalah (Beirut) Cet.Pertama (1404 H/1984 M)
4 Tahdzib al-Tahdzib Al-Hafidz syaikh al-Islam Syihab al-Din Ahmad Ibnu ‘Ali Ibnu Hajar al-Asqolani (582 H) Daar al-fikr (Beirut) Cet. Pertama (1404 H/1984 M)
5 Mizan al-‘Itidal fi Naqdi al-Rijal Abu ‘Abdullah Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu ‘Utsman al-Dzahabi (784 H) Daar al-Fikr (Beirut)
6 Al-Jarhu wa al-Ta’dil ‘Abd al-Rahman Ibnu Abi Hatim Muhammad Ibnu Idris Ibnu Mundzir al-Tamimi al-Handzali al-Razi Daar al-fikr (Beirut) Cet. Pertama (1372 H/1953 M)
7 Asad al-Ghabah fi Ma’rifah al-Sahabah ‘Izzu al-Din Ibnu al-Atsir Abu Hasan Ali Ibnu Muhammad al-Jazari (630 H) Daar al-Fikr (Beirut) 1409 H/1989 M


[2] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, sejarah dan pengantar ilmu hadits,  (Jakarta : Bulan Bintang, 1954), hlm. 120

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibid, 129

[5] Ibid, hlm. 129-130

[6] Ibid, hlm. 258. Menurut Prof. TM. Hasbi, ilmu rijal adalah separuh ilmu hadits. Bukan kah hadits itu terdiri sanad dan matan. dan sanad itu adalah perawi. Maka mengetahui keadaan mereka, perjalanan hidup mereka, merupakan separuh ilmu hadits.